Sabtu, 08 November 2014

Posted by Unknown |



KETIKA AKU BENCI PAPA DAN PAPA MENINGGALKANKU

            Kini bintang terlihat indah sekali di langit sana, apa mungkin bintang sedang mencoba untuk menghiburku dengan keadaan yang seperti ini. Aku terus memandang ke atas langit namun seketika aku terbayang wajah Papa dan Mama yang sedang bertengkar hebat seperti yang kulihat tadi. Aku tak bisa membohongi perasaanku, jujur aku benci kejadian itu. Aku benci papa yang selalu memulai pertengkaran, papa yang sering bermain judi dan aku benci mama, mama yang selalu saja setiap bertengkar dengan papa, aku dan adikku yang selalu menjadi sasaran untuk melampiaskan amarahnya.

            “Kapan semua ini akan usai Tuhan?” Tanyaku dalam hati
            Aku benar-benar muak dengan semua kejadian ini. Namun beruntungnya aku, aku mempunyai laki-laki terhebat yang selalu memberikan semangat dan dukungan untukku, sebut saja Andi. Andi adalah kekasihku dan sudah 1 tahun lebih aku menjalin kasih dengannya. Hanya saja kini Andi sedang berada jauh denganku, Andi sedang pergi keluar kota bersama keluarganya. Perasaanku memang benar-benar seperti di cambuk saat ini. Kucoba untuk tidak terlarut dalam kesedihan terus menerus dengan mengajak teman-temanku untuk jalan-jalan. Ku ambil ponsel untuk mengirim pesan singkat kepada Sinta temanku.
            “Sin, kamu dimana? Ada di rumah? Kita jalan-jalan yuk, mau?” pesanku lewat ponsel
Dan 2 menit kemudian Sinta membalas pesanku.
            “Aku di rumah, ayo. Kerumahku saja” balasan dari Sinta
            “OK” jawabku
            Aku segera bersiap-siap untuk kerumah Sinta, namun karena aku mempunyai pikiran untuk menginap di rumah Sinta jadi aku membawa tas yang berisi pakaian ganti. Aku tidak meminta izin Papa dan Mama bahwa aku akan menginap di rumah Sinta, tapi aku menulis surat yang bertuliskan “AKU MENGINAP DI RUMAH TEMAN” setelah aku siap untuk berangkat, aku pamitan kepada mama dan tidak lupa meminta uang jajan yang beralasan aku akan jalan-jalan.

#di rumah Sinta
Kebetulan Sinta ada diluar rumah jadi aku langsung to the point aja.
            “Hai Sin, malam ini aku ingin menginap di rumahmu, boleh?” tanyaku
            “Ya boleh saja, memangnya ada apa ko nginap?” tanya Sinta kepo
            “Tak apa aku hanya ingin menginap saja” Jawabku dengan nada menahan ingin menagis
            “Oh oke baiklah, simpan saja tasmu di dalam, setelah itu kita berangkat jalan-jalan” jawab Sinta
            Mungkin dengan cara seperti ini aku bisa sedikit melupakan kesedihanku di rumah, aku menghabiskan waktu bersama teman. Namun disisi lain aku juga memikirkan Andi yang tak ada kabar sama sekali, sudah 5 kali ku kirim pesan singkat dan 2 kali aku telpon  namun tetap saja tak ada jawaban.
            “Kemana Andi?” tanyaku dalam hati
            Aku menghabiskan waktu seharian ini bersama Sinta dari mulai nonton film dibioskop, makan, dan jalan-jalan kemana saja walaupun diselangi banyak sekali pikiran di oktakku, pikiran tentang keluargaku dan tentang Andi.
Sesampai di rumah Sinta, Aku berbaring bersamaan di tempat tidur, mungkin kita merasa sangat lelah hari ini.
            “Laras,aku mandi duluan ya” seru Sinta
            “Ok baiklah” jawabku
            Satu  jam aku menunggu Sinta mandi,kini giliranku untuk membasuh sekujur tubuhku dengan air. Tubuhku sudah bau busuk sekali, lengket seperti tidak mandi 5 hari.
#1jam kemudian
Setelah selasai mandi, aku segera melihat handphone berharap ada pesan dari Andi. Dan ternyata memang benar ada.
            “sayang maaf aku baru bisa menghubungimu, aku baru ada pulsa” pesan Andi
            “Ok tak apa, aku sedang tidak di rumah, aku menginap dirumah Sinta” jawabku memberitahu andi
            “Ok jaga keadaanmu ya, 1hari lagi aku pulang ke Bogor, Aku merindukanmu” seru Andi
            “Baiklah, Akupun merindukanmu” jawabku
Setelah itu handphoneku berdering amat keras, dan rupanya Papa menghubungiku, namun aku tak ingin menjawabnya, sudah 5 kali papa menelponku tapi aku benar-benar tidak ingin menjawabnya sehingga hanphoneku aku nonaktifkan, agar papa tidak bisa menhubungiku.
            “Aku benci Papa aku tak ingin mendengar suara Papa,aku tak ingin melihat papa, masih terdengar di telingaku perkataan Papa yang sangat kejam terhadap Mama, aku benci papa yang sering bermain judi aku benci papa yang suka memukul mama ,Aku benci papaa” teriakku dalam hati dan meneteskan air mata
#keesokan harinya
Aku pamitan kepada Sinta dan orang tuanya bahwa aku akan pulang dan mengucapkan terimakasih sudah mau memberikan izin aku untuk menginap di rumahnya.
            Setelah sampai dirumah, Aku tak melihat Papa, aku hanya melihat Mama dan adikku sedang menonton televisi. Dan sepertinya mamah mengetahui kepulanganku, mama bergegas menghampiriku dan memeluk menciumku, mama meminta maaf padaku, mungkin Mama berpikir karenanya aku pergi dari rumah.
Terdengar suara klakson mobil Papa sepertinya papa pulang, aku tak ingin melihat wajah Papa, aku lekas pergi menuju kamar dan  dengan lemasnya aku membaringkan tubuh di tempat tidur seakan-akan sudah lama tak berjumpa dengan tempat tidurku itu.
            Kutatap keatas langit, dilihatnya bintang yang begitu indah namun tak seindah malam kemarin. Sejenak aku berpikir apa aku salah membenci Papa? Apa aku salah tidak ingin berbicara dengan papa?bahkan untuk melihat wajahnya saja aku tak ingin. Kini aku kembali meneteskan air mata, dan tiba-tiba saja terdengar suara papa memanggilku, entah aku harus menemuinya atau berpura-pura tidur. Aku belum siap bertemu dengan Papa malam ini, kutemui papa besok pagi saja pikirku.
Tepat pukul 05.15 aku bangun dari tidurku, tapi mengapa tiba-tiba perasaanku tak enak sekali, mengapa di luar banyak orang yang menangis, apa yang terjadi diluar? Hatiku bertanya-tanya.
Aku bergegas keluar kamar dan apa yang kulihat? Aku melihat mama, kaka, adik, saudara dan Andi kekasihku di rumahku sedang  menangis.Andi yang tadinya ingin memberikan kejutan datang pagi sekali ke rumahku untuk menemuiku tapi ia malah mendapatkan kabar seperti ini di rumahku. Semua orang menatapku, namun aku hanya terdiam kaku berdiri di depan pintu kamar, Andi segera menghampiri dan memelukku, aku tak kuasa menahan air mata melihat papa terbaring tak bernyawa.
“Belum sempat aku menemui papa, belum sempat aku meminta maaf, papa sudah meninggalkanku” seruku sambil memeluk Andi menangis
“Tabahkan hatimu ras, kamu kuat, tadi sebelum papamu menghembuskan nafas terakhirnya,  papamu mengucapkan maaf padamu ras dia mengucapkan “mungkin karena sikap dan kebiasaan papa, kamu membenci papa bahkan untuk menemui papa saja kamu tak mau, maafkan papa nak” dan setelah itu papamu sudah tak bernyawa”.  Seru Andi
“Papaaaaaa maafkan aku pa, maaf, aku tidak lg membenci papa asalkan papa bangun” teriakku

Mama memelukku erat namun aku tetap saja menangis dan berteriak memanggil papa. selesai

*diambil dari kisah nyata, kisah saudaraku yang namanya di samarkan.

SEPTIA FITRIANI

XII TKJ 3